Stop Rasialisme

stop-rasialisme
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp
Theo Cosner

Theo Cosner

Aktivis Kebangsaan, alumni Pelatihan Pendidikan Politik melalui Literasi Informasi dan Media Generasi Milenial Lintas Agama Jawa Barat

Konflik menjadi sangat rentan terjadi di Indonesia. Baru saja kita melewati fase demokrasi lewat politik elektoral yang memperlihatkan bagaimana anak bangsa terkotak-kotak karena perbedaan pilihan. Keadaan itu berangsur pulih saat kontestan politik elektoral saling mengunjungi dan bertegur sapa di atas MRT dan juga meja makan seolah menegaskan pameo klasik politik di Indonesia yakni, tidak ada maka siang yang gratis. Pemandangan itu baru saja kita lewati sebagai bagian yang oleh sebagian media disebut sebagai rekonsiliasi politik karena kehadiran narasi kekerasan dalam konten politik elektoral yang telah dilewati.

Namun beberapa hari belakangan narasi kekerasan itu hadir kembali mewarnai riwayat Indonesia merdeka. Adalah tindakan represif yang diterima oleh mahasiswa asal Papua di asrama mereka di Surabaya. Kasus ini bukan pertama kali terjadi untuk mahasiswa Papua. Silakan dicari dengan mesin pencari di internet tentang hal ini, maka internet akan menyajikan begitu banyak cerita yang berkaitan dengan rasialisme yang dialami orang Papua. Tidak sekadar kasus-kasus HAM yang terjadi di Papua, tetapi juga diskriminasi serta ujaran kebencian terus mereka alami.

Terkini, cemoohan monyet dialamatkan kepada mereka. Menganggap Papua sebagai bagian di luar dari manusia, adalah tindakan yang tidak manusiawi. Tindakan ini akan memicu konflik yang berkepanjangan. Kronik semacam ini akan melandasi segala hal yang dipakai sebagai alasan untuk melegalkan sebuah konflik akibat ketidaksenangan akan kehadiran orang-orang Papua di sekitar. Contoh seperti memeriksa administrasi sebagai warga negara akan dijadikan media dasar untuk menyudutkan orang-orang Papua di rantau. Padahal, dasarnya adalah ketidaksukaan akan kehadiran mereka. Akibatnya, balasan terhadap konflik tidak terhindar juga. Aksi serupa dibuat juga d Papua semacam penegasan akan kehadiran mereka yang kadang tidak dianggap ada. Supaya api konflik antar sesama warga negara tidak berkepanjangan, maka stop rasialisme terhadap sesama manusia. Stop rasialisme itu bisa dengan cara tidak meneruskan konten berita hoax dan ujaran kebencian yang memantik reaksi dendam dan amarah bagi sesama. Stop rasialisme juga adalah cara yang bisa dilakukan dengan cara berhenti menjadikan manusia sebagai objek komedi, lawakan atau bahan tertawaan dengan merendahkan martabat manusia. Stop rasialisme antar sesama anak bangsa adalah usaha sederhana menjaga keutuhan NKRI. Karena di atas segalanya, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, adalah tindakan memuliakan kehidupan.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp