Populisme Isu Rasialisme dan Agama

populisme
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp
Fanny Alam

Fanny Alam

Sekolah Damai (Sakodi) Bandung, peserta rangkaian program ICIP.

Beberapa waktu lalu hingga sekarang masyarakat disibukkan dengan hingar bingar teman-teman Papua dengan pengalaman tidak menyenangkan diteriaki sebutan hewan tertentu. Lalu, kejadian ucapan Ustad Abdul Somad yang dinilai mendiskreditkan umat agama tertentu.

Kedua peristiwa di atas memperlihatkan bagaimana justru menjelang pelantikan presiden RI serta setelah perayaan kemerdekaan RI ke 74, Indonesia masuk ke dalam fase mendefinisikan ulang apa arti kemerdekaan sesungguhnya. Apa yang sebenarnya dilihat sebagai bangsa yang benar-benar merdeka apabila ternyata masyarakat dan juga negara masih melakukan pembiaran terhadap para pelaku yang dianggap melakukan rasialisme dan tindak yang dianggap melecehkan umat agama lain secara viral di berbagai media.

Pekerjaan rumah berat menunggu pihak pemerintah pusat dan juga masyarakat keseluruhan, karena masalah rasialisme yang dialami teman-teman Papua sebenarnya merupakan bagian bola es yang siap membesar dan jatuh menimpa tidak hanya mereka sendiri, tapi berdampak luas kepada situasi politik, sosial, budaya, ekonomi, dan hak asasi manusia. Masalah yang sudah jelas ada dari dahulu kala. Sementara itu, bagaimana juga pemerintah mencermati para pemuka agama yang dinilai malah membuat masalah baru yang mencederai situasi kondusif toleransi yang dibangun susah payah menjadi perhatian penting bagi pembangunan negara untuk ke depannya.

Populisme Dua Isu

Suka atau tidak, populisme dua isu, yaitu rasialisme dan agama, kembali mendominasi pola pikir masyarakat saat ini. Kemudahan mendapat akses informasi cepat menyebabkan pembentukan pola pikir masyarakat secara cepat dalam merespons dua isu ini. Hal yang sama dialami pemerintah dengan respons yang harus dilakukan demi meredam dampak negatif akibat sebaran informasi yang bisa jadi merupakan disinformasi dan hoax. Akibatnya, salah satu dampaknya adalah perlambatan kapasitas internet yang diberlakukan di Papua oleh Kominfo demi mencegah situasi yang dianggap akan lebih memperparah kondisi di sana yang sudah termakan emosi dari peristiwa demo yang pecah beberapa waktu lalu.

Populisme terkadang bisa digunakan untuk melawan elit yang sedang berkuasa demi posisi politik kelompok tertentu (Octavia, Bryant). Kecenderungan kelompok yang tidak puas akan hasil pemilu atau tidak sejalan dengan elit menghasilkan pemikiran populis, sejalan seolah-olah merangkul pemikiran banyak orang sehingga mereka direpresentasikan sebagai pendapat terbanyak dan harus diakui sebagai bagian yang perlu dipertimbangkan bahkan oleh elit yang menjalankan pemerintahan (Moffit, Benjamin). Praktik ini diperparah dengan betapa pintar aktor-aktor pelaku populisme dalam memanipulasi sentimen dan masyarakat dengan tingkat emosi yang jelas dapat meledak begitu saja di Indonesia terkait dua isu ini.

Populisme terhadap isu rasialisme Papua bukan tidak mungkin dibentuk dari stigma yang melekat di diri teman-teman Papua yang terlihat begitu saja. Mabuk-mabukan, misalnya, padahal tidak hanya mereka yang melakukan tapi banyak dari masyarakat namun tidak diekspos besar-besaran. Praktik rasialisme di Surabaya juga dibesarkan dengan perilaku mereka yang distigma di atas seolah-olah membenarkan perilaku rasialisme sebagai dampak dari stigma yang dilekatkan.

Sementara dalam isu tuduhan penistaan agama yang dilakukan Ustad Abdul Somad, populisme isu ini didorong oleh kelompok konservatif dengan paparan resiko memecah belah ketenangan umat dua belah pihak, yaitu Islam dan Kristen. Permasalahannya sekarang bukan hanya terletak kepada siapa yang bersalah atau apa tindakan yang harus diambil untuk menyikapinya, namun bagaimanakah situasi politik ke depan dalam pemerintahan presiden yang selanjutnya?

Negativitas Populisme

Sebenarnya, bisa jadi populisme muncul sebagai dampak ketidakberwakilan satu atau lebih dari suatu kelompok dalam lingkaran politik, namun cenderung diabaikan. Populisme sendiri muncul dalam kondisi yang sedemikian tiba-tiba sebagai respons atas situasi yang pada saat ini sudah dianggap kondusif. Menjadi suatu bentuk yang kontra produktif ketika situasi kondusif tiba-tiba diganggu dengan isu, terutama rasialisme dan agama, di mana kita semua sedang mempersiapkan diri untuk mengamati bagaimana masa depan kita dan negara, terutama setelah perayaan ke-74 kemerdekaan.

Benalu dalam demokrasi ini adalah jelas bagaimana populisme diangkat. Bagaimana populisme kerap membawa politik identitas sehingga memiliki dampak negatif terhadap keberagaman di Indonesia yang jelas-jelas memperlihatkan keberagaman sebagai aset nasional (Alam, Fanny). Sementara itu, pihak-pihak yang diuntungkan dalam konflik yang pecah karena populisme bisa menganggap ini risiko atau investasi politik demi kedudukan di masa datang.

Menolak populisme yang jelas membawa politik identitas dalam kehidupan bermasyarakat dan politik jelas akan membawa dampak positif dan kemajuan berpolitik dan berbudaya di Indonesia, sementara itu hanya tinggal menunggu waktu pecahnya tatanan keberagaman jika hal ini terus dipertahankan menjadi komoditas politik segelintir kelompok.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp