Penguatan Kapasitas Kebebasan Beragama di Ruang Publik melalui FKUB di Tangerang Selatan, Bekasi dan Bogor

Penguatan-Kapasitas-Kebebasan-Beragama-di-Ruang-Publik-melalui-FKUB-di-Tangerang-Selatan,-Bekasi-dan-Bogor
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp

Atas dukungan Tifa Foudation, program ini berlangsung satu tahun dari bulan Juli 2016 sampai dengan Juni 2017. Program ini terdiri dari beberapa program:

Pertemuan konsultatif

Pertemuan konsultatif I dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2016 berlokasi di Restoran Bandar Jakarta BSD Kota Tangerang Selatan dengan mengundang para pengurus organisasi FKUB Kota Tangerang Selatan sebagai target utama dan ormas agama lainnya seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, organisasi kemahasiswaan, pemerintah daerah (Kesbangpol dan Kantor Kementerian Agama), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta media lokal. Pada acara ini bertindak sebagai narasumber adalah Dr. Chaider Bamualim dan Dr. Media Zainul Bahri serta dimoderatori atau difasilitasi oleh Aceng Husni Mubarok dari Pusad Paramadina. Pertemuan ini mengumpulkan dan menjembatani komunikasi dua arah antara anggota FKUB dengan perwakilan pemerintah daerah dalam hal ini Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) untuk mencari solusi bersama dalam isu keberagaman dan toleransi antar warga negara di daerah Tangerang Selatan. Pertemuan konsultatif II dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2016 berlokasi di Hotel Amaris Bogor dengan dihadiri oleh pengurus organisasi FKUB Kota Bogor, ormas lain seperti NU dan Muhammadiyah dan perwakilan Pemda Kota Bogor. Bertindak sebagai narasumber adalah Dr. Chaider Bamualim dan Dr Media Zainul Bahri dan juga dimoderatori atau difasilitasi oleh Aceng Husni Mubarok. Pertemuan konsultatif ini berhasil mengumpulkan dan menjembatani interaksi antara tokoh dari FKUB Kota Bogor dan perwakilan pemerintah Kota Bogor dalam hal ini diwakili oleh Kesbangpol Kota Bogor guna memecahkan masalah toleransi dan keberagaman di Kota Bogor. Dan Pertemuan konsultatif III diselenggarakan pada tanggal 6 September 2016 bertempat di Fave Hotel Kota Bekasi dengan dihadiri oleh organisasi FKUB Kota Bekasi, NU, Muhammadiyah, dan perwakilan Pemda. Dr. Chaider Bamualim dan Dr. Moqsith Ghozali adalah narasumber dan Aceng Husni Mubarok sebagai moderator atau fasilitator. Pertemuan ini berhasil mempertemukan tokoh FKUB Kota Bekasi dengan perwakilan Pemerintah Kota Bekasi yang dalam hal ini diwakili oleh Kesbangpol Kota Bekasi dengan tujuan forum ini menjadi usaha bagi semua belah pihak dalam mengampanyekan toleransi baik oleh pemerintah lokal dan masyarakat yang diwakili oleh tokoh-tokoh agama yang ada di dalam FKUB Kota Bekasi.

Pelatihan

Pelatihan sesi 1 bertemakan “Penanganan dan Penyelesaian Ketegangan dan Konflik antar Umat Beragama” diselenggarakan pada tanggal 18 – 20 Oktober 2016 di Wisma PGI Cisarua Bogor dengan mengundang 30 peserta dari perwakilan organisasi FKUB dan ormas keagamaan, organisasi kemahasiswaan dari tiga kota sasaran. Adapun narasumber yang diundang untuk membagikan ilmu dan strategi mereka sesuai dengan pengalaman dan keahlian mereka adalah Bapak Muhammad Isnur dari Yayasan LBH Jakarta yang menekankan teknik diplomasi, mediasi dan advokasi kepada para peserta dalam mencegah dan menangani konflik beragama. Narasumber kedua, Bapak Savic Ali dari NU Online yang menekankan pentingnya kampanye dan propaganda dalam menyampaikan suatu tujuan serta strategi memanfaatkan teknologi informasi komunikasi (TIK) dan media sosial untuk melakukan kampanye yang efektif dalam mencegah dan menyuarakan Islam yang damai dan toleran. Selain itu ditekankan pula pentingnya literasi media sebagai sebuah kecakapan dalam mengelola informasi serta pentingnya melakukan proses cek dan ricek serta etika dalam menyebarkan sebuah informasi. Pembicara ketiga adalah Bapak Badrus Sholeh dari FISIP UIN Jakarta yang menelaah pentingnya identifikasi konflik dan analisa potensi konflik, pencegahan serta penanganan konflik berdasarkan pengalaman di lapangan terjun di daerah konflik seperti Ambon dan Poso serta interaksi dengan mantan kombatan konflik.

Dalam pelatihan ini semestinya dihadirkan empat pembicara, namun Bapak Fachrudin Zuhri selaku sekretaris FKUB Kota Tangerang Selatan sebelum pelaksanaan pelatihan mengusulkan kepada ICIP untuk mengalokasikan ruang dan waktu bagi perwakilan pengurus organisasi FKUB dari tiga daerah atau kota sasaran untuk menjadi nara sumber guna menyampaikan wawasan dan pengalaman mereka sebagai pengurus FKUB dalam menangani isu manajemen dan penguatan kapasitas organisasi dalam mencegah dan menangani konflik beragama di kota masing-masing.
Dalam rangka mengapresiasi dan mendukung FKUB, ICIP pun menyetujui usulan ini dan jadinya ada tiga nara sumber dari perwakilan FKUB untuk berbagi dan bertukar wawasan dan pengalaman mereka dalam mengelola dan merawat kebinekaan dan toleransi melalui organisasi FKUB serta tantangan dan solusi yang mereka hadapi dan tawarkan untuk eksistensi FKUB. Yang menjadi narasumber mewakili FKUB yaitu Bapak Fachrudin Zuhri dari FKUB Kota Tangerang Selatan, Bapak Rusli Saimun dari FKUB Kota Bogor dan Bapak Eko Praptanto dari FKUB kota Bekasi. Pelatihan ini difasilitasi oleh Husni Mubarok dan Siswo dari Pusad Paramadina yang memang memiliki pengalaman di bidang kajian pluralisme dan juga sering berkolaborasi dengan FKUB.

Kemudian untuk pelatihan sesi 2, jika pada pelatihan sesi 1 menitikberatkan pada peningkatan kemampuan dan keterampilan para pengurus FKUB dan perwakilan organisasi kemasyarakatan dalam masalah analisa konflik dan resolusinya dengan mengacu kepada empat isu yakni analisa konflik, pencegahan konflik dan pengelolaan konflik, advokasi, penguatan kapasitas organisasi dan penggunaan media sosial untuk melakukan perubahan sosial dan pencegahan konflik di masyarakat. Adapun untuk pelatihan sesi 1 menekankan pada beberapa aspek berikut: ujaran kebencian, berita bohong (hoaks), mediasi dan networking. Tujuannya adalah pertama, Meningkatkan kapasitas pengelolaan konflik berbasis agama di wilayahnya. Kedua, menumbuhkan kesadaran dan kemampuan mengidentifikasi sekaligus mengatasi bahaya berita bohong dan ujaran kebencian, Ketiga, memperkenalkan aspek-aspek kunci mediasi konflik. Keempat, mengembangkan dan mengelola jaringan untuk kerukunan dan kebebasan beragama di wilayahnya. Untuk Pelatihan sesi 2 kami laksanakan pada 21 – 24 Februari 2017 di Fave Hotel kota Bogor, Jawa Barat dengan mengundang 30 peserta dari perwakilan FKUB dan ormas keagaman dari 3 kota (Tangerang Selatan, Bogor dan Bekasi). Pemateri pada pelatihan sesi 2 cukup beragam dari berbagai latar belakang keahlian seperti Irsyad Rafsadi (Peneliti Pusad Paramadina). Irsyad menjelaskan materi terkait ujaran kebencian dan cara pencegahanya, Ahsan Jamet (The Asia Foundation) menjelaskan pentingnya melakukan analisis jaringan; bagaimana cara memanfaatkan jaringan, merawat dan menggunakannya, agar bermanfaat bagi pencegahan konflik, Erikasman Gafar (ICT Work ) menjelaskan bagaimana cara menganalisa informasi hoaks dan cara mencegahnya dan Agustinus Rajardjo (Tim Media Kantor Staf Presiden) menjelaskan bagaimana cara menguatkan literasi di bidang informasi dan teknologi untuk mencegah konflik. Sebagai langkah konkret setelah acara selesai para peserta pelatihan membuat grup WhatsApp untuk saling sortir informasi terkait informasi provokasi dan informasi hoaks dalam rangka pencegahan konflik sejak dini, selain itu yang menarik setelah acara para peserta dari masing-masing kelompok menampilkan hiburan yang bertemakan “kerukunan beragama dan pencegahan konflik”.

Kegiatan ketiga adalah Workshop Perumusan Modul Pemantauan Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan untuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Organisasi Keagamaan, dilaksanakan pada 4 – 7 Mei 2017 Di Hotel 101 (Jl. Surya Kencana No. 179 – 181 Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor). Workshop ini hanya diikuti oleh 15 peserta dari pengurus FKUB dan ormas keagamaan dari tiga kota (Tangerang selatan, Bogor dan Bekasi). Tujuan dari kegiatan ini adalah: pertama, menyusun modul kemerdekaan beragama dan berkeyakinan; kedua, mengidentifikasi unsur-unsur yang bisa menjadi alat ukur kemerdekaan beragama dan berkeyakinan di suatu daerah; dan ketiga, memperkuat hubungan antara komunitas dan FKUB yang sudah terjalin beberapa bulan terakhir. Narasumber dalam acara ini adalah Ihsan Ali Fauzi (Direktur Pusad Paramadina) yang menyampaikan Kerangka Dasar mengenai Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan Pola-Pola Konflik Keagamaan di Indonesia dan bagaimana cara mengumpulkan data penelitian tentang sumber konflik. Yang kedua adalah Irsyad Rafsadi (Peneliti Pusad Paramadina) menyampaikan Modul Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan (cara pengukuran dan pemantauan). Dalam workshop ini teknis penyusunan modul juga bersumber dari informasi dan pengalaman peserta workshop dari tiga kota, mereka memberikan masukan terkait apa yang dibutuhkan dalam pembuatan modul sehingga disesuaikan dengan dinamika yang ada di kota masing-masing.

Workshop

Workshop ini difasilitasi oleh Husni Mubarok dari Pusad dan Amrizal Ulya dari Formaci. Selain materi dari para narasumber, metode simulasi untuk mempertajam sensitivitas dan mendorong kreativitas para peserta dalam isu dalam mengidentifikasi potensi konflik, penanganan konflik dan ketegangan serta pencegahannya. Penguatan kerja tim, sifat empati serta literasi konstitusi dan hukum akan pentingnya hak dan kewajiban seluruh warga negara adalah hal-hal yang menjadi penekanan dalam isu ini. Di sini sangat penting dan perlu untuk membangun kerja sama yang solid dengan lembaga penegak hukum dalam penyelesaian konflik. FKUB dan ormas keagamaan juga organisasi kemahasiswaan dapat menjadi jembatan dan mediator strategis antara masyarakat dan lembaga penegak hukum dalam membangun masyarakat yang toleran dan harmonis. Dalam pelatihan ini terjadi cukup banyak dinamika dalam simulasi kerja tim yang dilakukan namun dinamika yang terjadi justru dapat dilihat sebagai sebuah proses berelasi dan interaksi yang selama ini mungkin tidak terjadi di dalam organisasi masing-masing.

Monitoring dan evaluasi

Monitoring dan evaluasi kepada sejumlah anggota FKUB dan peserta kegiatan dari non-FKUB di tiga kota sasaran dengan tujuan mengukur sejauh mana perkembangan termasuk juga hambatan yang dialami dalam mengimplementasikan kegiatan pelatihan yang telah diselenggarakan oleh ICIP.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp