Para Tokoh Lintas Agama yang Mendadak Lugu

lintas-agama
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp
Aloisius Eko Praptanto

Aloisius Eko Praptanto

Anggota FKUB dari Majelis Agama Katolik Kota Bekasi, peserta rangkaian program ICIP.

Petikan-petikan kisah bersama ICIP dalam menciptakan kerukunan dan kebebasan beragama dengan FKUB dan ormas keagamaan

Penghujung Februari 2017, di dalam sebuah lift Fave Hotel. Enam orang bapak terbahak bersama bersahut-sahutan.

“Ini kita mau ke lantai 10, naik ke lantai 2 aja gak bisa! Huahahaha” seru Pak Herlan sambil menutupi mulutnya agar tawanya tak menggelegar.i

“Pak, kartunya palsu kali, kok liftnya gak mau nurut?” balas Pak Anton.

“Apa kita perlu berdoa cara 5 agama agar kita tak dipermalukan lift?” sergah Pak Fakhrudin.

“Lah, itu lihat, Pak Eko tertawa sampai menangis!”

Apa yang terjadi? Beberapa bapak peserta Pelatihan Menangani Konflik Antaragama yang ingin menuju lantai tempat mereka akan menginap beberapa hari sungguh “tersesat” di dalam lift. Secara bergantian mereka menempelkan kartu pintu mereka masing-masing ke peranti yg mereka duga sebagai “pembaca kode lift”, tak kunjung berhasil. Lift bahkan hanya naik turun dari lantai parkir ke lobi. Sehingga lift mereka berkali-kali, mungkin 6 kali, bertemu dengan orang yang sama yang sedang menunggu lift di lobby. Insiden yang menggelikan itu terselamatkan oleh seorang office boy hotel. Ternyata kami menempelkan kartu pada peranti yang salah! Betapa lugunya bapak-bapak yang konon di wilayahnya merupakan agen penggerak persaudaraan lintas agama tersebut!

Keluguan yang menciptakan persaudaraan

Pertemuan para aktivis lintas agama, termasuk di antaranya pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di tiga kota, yakni Bekasi, Bogor, dan Tangerang Selatan sudah berlangsung 2 kali. Saya baru “tersangkut” di pertemuan kedua (mohon dikoreksi kalau salah) di Fave Hotel kota Bekasi sekitar bulan September 2016. Saat itulah saya baru mengenal Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP). Kesan pertama saya, boss nya, Dr. Phil. Syafiq Hasyim (maaf kalau salah tulis), pintar dan cool. Ini bukan memuji diri sendiri lewat penampilan “gondrong” beliau. Ketahuilah, saya begitu lugunya sampai lupa jalan menuju pemangkas rambut. Uraian beliau tentang konflik antaragama begitu pekat, dan terasa berbasis data. Ketersangkutan perdana saya tersebut belum “berasa”, karena pada hari yang sama sahabat kecil saya meninggal dunia dan saya pamit.

Pertemuan di sebuah vila pemuda (lupa namanya) di Cisarua, di penghujung bulan Oktober 2016, bagi saya adalah pertemuan yang mulai merajut persaudaraan. ICIP sengaja membiarkan kami untuk menangguk pemahaman lewat para nara sumber, melaporkan situasi wilayah kami masing-masing, dan mengimplementasikan peristiwa dan asumsi dalam beberapa rumusan sederhana. Di antaranya sebagai berikut.

Para pegiat mempertanyakan penilaian internasional yang tak selalu cermat tentang status sebuah kota yang dianggap paling intoleran, nomor dua intoleran dan sebagainya.

Niatan baik, seminimal apapun, sekurang sistematis apapun, untuk mencoba melakukan upaya-upaya menjaga persaudaraan lintas agama tetap harus dihargai.

Ada begitu banyak data konflik antarumat beragama yang sesungguhnya berasal dari konflik antarumat beragama.

Rumusan tersebut tertata dari sebuah perjumpaan pemikiran dalam suasana penuh persaudaraan. Info yang mengemuka tentang konflik antaragama ternyata tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang kami hadapi. Suasana bersaudara membawa kami dalam situasi “mendadak lugu”. Bagaimana tidak? Contoh, Kota Bogor dari hasil survei beberapa lembaga dinyatakan sebagai kota paling intoleran nomor satu. Namun, dari hasil diskusi dan data empiris, tak nampak “prestasi” tersebut. Demikian juga soal kategori “konflik antaragama”, bahkan, untuk kasus Gereja Yasmin yang mendunia, dari diskusi dengan para pegiat di Bogor, justru mencuat sebuah kenyataan bahwa gereja Yasmin adalah konflik internal agama. Semenjak acara di Cisarua, saya jadi mengenal Kiai Luqman lebih dekat.

Keluarga baru yang mulai mengelola keluguan untuk kerukunan

Insiden di lift Hotel Fave, Bogor, hanya meramu persaudaraan yang telah terjalin, menjadi sebuah keluarga. Penting untuk dicatat, di pertemuan ini, keterlibatan kaum muda. Saya jadi mengenal gaya artikulasi Wasil, aktivis persaudaraan dari komunitas HMI, Bekasi, dan beberapa kaum muda lintas agama yang membuat saya semakin lugu. “Hei, di usia muda, mereka sudah terlibat dalam kegiatan lintas agama!” gumam saya. Betapa “iri”nya saya melihat penampilan mereka yang, meski belum koheren dalam menyampaikan pendapatnya, namun sudah terasa “mampu membaca” persoalan.

Keluguan kami yang lain adalah ketika kami terkesiap mencermati data dan fakta yang disampaikan para nara sumber. Hei, ternyata ujaran kebencian (hate speech) dan ujaran kebohongan (hoaks) adalah sebuah industri. Gile bener! Dan pihak istana, ternyata sudah melakukan pengelolaan terhadap duet hate n hoax tersebut.

“Bacanya ‘howks’ ya, teman-teman, bukan ‘hoaks’,”gurau Bung Husni, moderator kami yang mengantar pelbagai acara dengan nyaman. “Saya pernah nyebut ‘hoaks’ di Bangkok, para audiens tidak ada yang ngerti!”

Lagi-lagi lugu. Oh, ternyata hoaks!

Pertemuan di Fave Hotel tersebut langsung saya upload dan kisahkan di Facebook. Saya tampilkan foto kami yang tengah “pentas seni” sebagai wujud pemahaman kami untuk menjadi agen perdamaian. Begini laporan saya di Facebook.

“Foto-foto di bawah ini adalah ‘keluarga baru’ yang saya peroleh saat saya mengikuti Pelatihan Menangani Konflik Antaragama di Bogor. Penyelenggaranya adalah Indonesian Center Islamic and Pluralism (ICIP). Lihatlah wajah kami, gembira. Hangat. Aroma persaudaraan. Aroma keluarga. Kami adalah para pelayan lintas agama dari tiga kota, Bogor, Bekasi, dan Tangsel. Beraneka ragam agama, suku, dan usia. Tua, sedang, muda. NU, Muhamadiyah, HMI, Kong Hu Cu, Buddha, Hindu, Katolik, Protestan, semua ada. Kami baru saja mendapatkan materi tentang ujaran kebencian, hoaks, dan networking. Hasilnya, dorongan bersama untuk menjadi agen yang melawan segala yang berbau kebencian dan kebohongan, di tempat masing-masing, dengan cara masing-masing. Lihatlah, sudah pada sepuh, setengah sepuh, kok malah main “ular naga panjangnya”, sambil nyanyi pula. Ada pula yang baca puisi 3 tema (puisi cinta, puisi perjuangan, dan penjual telur) bergantian… atau gagah berdeklamasi. Penuh gelak tawa. Gembira amat …lupa ya pada kebencian? Enggak lah, cuma keluarga baru ini sudah memilih paket. Paket Perdamaian….”

Pertemuan di Fave Hotel tersebut memang diakhiri dengan kewajiban para peserta untuk menampilkan karya seni “apapun bentuknya” yang bertemakan “Kerukunan Beragama, Pencegahan Konflik, dan Anti Ujaran Kebencian. Kelompok saya, kelompok Shanti (artinya Damai) menampilkan seolah-olahseni instalasi, yaitu sebuah Mesin Perdamaian Khayal yang dapat mengubah sikap, pikiran, dan tindakan negatif menjadi positif. Sesungguhnya ini cuma gaya saja… wong kami yang sudah tua, setengah tua, dan belum tua, masih ingin menikmati sifat kami sebagai homo ludens, manusia yang bermain. Iyal ah, yang disebut seni instalasi itu, sesungguhnya cuma tiruan permainan “Ular Naga Panjangnya”.

Pertemuan di Fave Hotel tersebut juga memunculkan tagline abadi di kepala saya. Tagline tersebut lahir dari ucapan Kiai Himam, tokoh NU dari Tangsel, seperti yang saya kisahkan di Facebook saya pada hari kedua pertemuan, sebagai berikut.

Industri kebencian

“Kebencian yang sudah tinggal di benak kita, kalau kita sebarkan ke orang lain, bagi saya, dosanya multilevel!” seru Kiai Luqman, mewakili pemuka agama Bekasi, saat menyampaikan pendapatnya tentang ujaran kebencian.

“Bagi saya, selama kita beragama secara terbuka, dengan pemikiran bahwa ‘ada potensi kebenaran dari orang lain’, maka kita dapat menjadi seorang penghenti penyebar kebencian,” tambah Kiai Himam, kiai NU dari Tangsel.

“Saya, melihatnya dari sisi berbeda. Saya kagum dengan para pembuat hoax, ujaran kebencian, karena mereka tampaknya paham psikologi massa.” cetus Kang Wilson, aktivis muda protestan dari Bogor.

Cetusan pendapat di atas bertaburan saat pertemuan pelbagai perwakilan komunitas agama dari 3 kota (Tangsel, Bogor, Bekasi) yang diselenggarakan oleh Indonesian Center for Islam and Pluralism di Fave Hotel, Bogor. Hari itu kami mendiskusikan tentang hoaks. Kami tidak terkejut, kalau ternyata ujaran kebencian dan ujaran kebohongan (hoaks) ternyata berangkat dari sebuah industri, yakni industri kebencian.

Data ICT menyebutkan bahwa, di dunia maya, kini ada 3 industri besar yang tengah populer, yakni industri pornografi, industri perjudian,dan kini industri kebencian. Produsen Industri Kebencian sudah sangat marak dengan tujuan satu: pundi uang. Bisnis! Portal-portal penyebar kebencian dan hoaks telah menghasilkan uang miliaran dari kegiatan mereka yang dibantu dengan gegap gempita oleh KITA yang rela menyebarkannya lewat media sosial dan aplikasi ngobrol (seperti WA, Line, dll). Contoh, portal “P” memperoleh Rp500 jutaan per bulan dari iklan, karena portal tersebut diklik ratusan ribu netizen per hari. Mereka memanfaatkan sentimen agama dan primordial masyarakat.

Data ICT membuktikan, sentimen agama adalah yang paling laris untuk dikelola. Saluran media sosial seperti Facebook ini adalah ruang yang paling disukai untuk menyebar hoaks dan ujaran kebencian (92%). Di urutan berikutnya adalah aplikasi chatting (62,80%). Ada begitu banyak data yang buat saya sangat mengerikan dan membahayakan negeri tercinta ini, yang tak begitu kita sadari.

Tanpa kita sadari pula, kita juga pernah atau sering menjadi agen penyebar kebencian dan hoaks. Kita bangga sebagai orang yang paling cepat membagi berita atau gambar yang belum kita selidiki kebenarannya. Sebetulnya, bagaimana mengetahui kalau kabar tersebut adalah kebohongan. Ada beberapa frase yang sudah sering kita terima, seperti “copas dari grup sebelah”, “sebarkan”,”klik like”, “jangan berhenti di kamu saja”, yang patut kita selidiki dulu kebenarannya sebelum membagikannya kepada kawan atau WAG. Itu cuma salah satu cara. Masih ada banyak cara lain.

Bagaimana dengan foto yang kita curigai sebagai haks? Selain copy beritanya, lalu paste di google search, simpan foto tersebut di handphone anda, lalu upload di google image…kita segera akan mengetahui apakah foto tersebut merupakan foto hoaks atau bukan.

Buat kami, yang masih berdiskusi di Bogor, ujaran kebencian dan kebohongan adalah bahaya nasional. Entah anda! Maaf jika tak sejalan dengan pikiran anda, teman!”

Perumusan indah, bertanggung jawab, dan… nyaris tidak lugu lagi

Pertemuan di Hotel 101, Bogor, (Workshop Penyusunan Modul Pemantauan tentang Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan”, ) ternyata hanya diikuti oleh peserta yang lebih terbatas. Saya sih menganggapnya, mereka yang diundang untuk pertemuan yang sifatnya perumusan itu sebagai para pelayan masyarakat yang harus “remedial”. Hehehe, bercanda!

Persaudaraan Tiga Kota sudah terjalin, maka temu 101 terasa semakin rapat dan dekat. Kami mulai mengenal kepribadian masing-masing “saudara”, bahkan pola pikirnya. Mulai terlihat sosok yang “berat hati untuk bertoleran ria”.

Perumusan tentang “Modul Pemantauan tentang Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan”, tidak sekadar menyusun pelbagai ukuran pemantauan, namun juga bagaimana membuat sebuah pemantauan lebih objektif dan komprehensif. Dalam diskusi dengan nara sumber dari Paramadina, misalnya, tampak bahwa lembaga-lembaga survei besar, mengambil “koran daerah” sebagai sumber. Kami tiba-tiba menjadi nyaris lugu,”Hei, alat pantau para lembaga survei itu ternyata media yang berpotensi tidak menampilkan akurasi.” Berdasarkan pengalaman empiris, buat saya, koran daerah tidak dapat menjadi acuan sumber, namun hanya sekadar alat untuk memulai sebuah pemantauan konflik antaragama.

Di pertemuan 101, terasa sekali ICIP menstimulasi kami agar mudah dalam menerapkan ukuran atau alat pantau. Tagline abadi yang saya peroleh pada pertemuan 101 adalah ucapan dari Kiai NU tentang “nafsu agama”. Bahwa kini banyak kalangan yang memiliki “nafsu beragama” yang kuat dan menjurus ke banal. Saat berdiskusi tentang tagline tersebut, kami sama-sama menunduk dalam, sebelum sama-sama berkehendak untuk menjadi agen penggerak damai di wilayah kami masing-masing. Apa yang kami temukan, ah, ternyata kami mulai “nyaris tidak begitu lugu”.

Keluguan yang menggerakkan

Akhirnya kami menemukan begitu banyak permenungan dari hasil pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh ICIP. Betapa kami yang bekerja sebagai – bahasa arogannya – penggerak persaudaraan, memerlukan gelora persaudaraan di antara kami terlebih dahulu. Dan itu berhasil diciptakan oleh ICIP. Kami pun dapat berjejaring, lewat alat komunikasi, juga karena stimulasi persaudaraan yang telah diramu lewat pelbagai pertemuan oleh ICIP. Keluguan kami, sebagai makhluk pembelajar, akan semakin banyak kami temukan, saat kami yang “orang lapangan” siap untuk berbagi lewat pelbagai stimulasi.

Tulisan ini adalah sebuah kisah. Kisah tentang orang-orang lugu, yang mencermati keluguannya, dan menemukan bahwa keluguan selalu muncul saat kita terus belajar dan ingin belajar. Celakanya, yang kami harus pelajari adalah sebuah pelajaran perdamaian. Sungguh berbahaya kalau kami “salah belajar”, maka saya khususnya berpendapat, sungguh baik bagi kami untuk tetap merasa lugu. Atau setidaknya, “mendadak lugu”.

Satu hal yang kami pelajari (sangat penting) dari semua rangkaian kegiatan ICIP adalah selalu mendorong kami untuk melakukan kegiatan atau program nyata di lingkungan kami. kami kira yang membuat kami terus bergerak konkret di lapangan baik itu mandiri maupun menggandeng pihak lain karena ICIP melalui program-programnya memberikan pelatihan yang apliaktif ( langsung bisa kami tiru di lapangan). Beberapa program yang sudah kami buat yaitu “Penanaman benih ikan lele bersama tokoh lintas agama di beberapa kelurahan di Kota Bekasi “ hal ini membuktikan kepada masyarakat bahwa kami tokoh lintas agama rukun, sehingga kami bisa ditiru oleh mereka. Karena kami sadar bangsa ini sebetulnya butuh suri teladan bukan perintah-perintah dari pemegang kekuasaan. Satu program yang sedang kami jalankan adalah Bekasi Bhinneka. Yaitu penguatan nilai-nilai Pancasila untuk ibu-ibu rumah tangga, karena ibu adalah sumber pendidikan generasi bangsa ini.

Satu pesan saya “Perdamaian dapat menjadi mahal kalau kita meremehkannya”. Amin.

Jatiwaringin, Bekasi, 13 Juni 2018

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp