Menghadang Hoaks, Menjalin Persahabatan

Menghadang-Hoaks-Menjalin-Persahabatan
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp
Fanny Alam

Fanny Alam

Sekolah Damai (Sakodi) Bandung, peserta rangkaian program ICIP.

“Tahu tidak kalau capres A sedang mengkritik lawannya tentang masalah kesejahteraan?”

“Lho, kamu sendiri gak lihat kenapa mereka berdemo? Ajaran agama yang mereka demo itu sesat. Yuk, kita bela”

“Katanya kalau partai X menang, maka kita akan bebas pajak bumi bangunan ya?”

Berita-berita semacam ini nampaknya lumrah menjalar sepanjang waktu sebelum pemilihan umum. Gawai paling praktis, yaitu telepon pintar, mendominasi media untuk menyebarkannya. Satu kali klik terbuka tautan dan bebaslah kita mengaksesnya.

Akan tetapi…

“Tahu tidak bahwa beberapa hari lalu berita-berita tersebut dikonfirmasi hoaks”.

“Hoaks itu apa? Kenapa disebut itu?”

“Hoaks itu kabar bohong.”

“Yah, aku sudah terlanjur membagi tautannya ke banyak teman-teman di grup.”

Kalau sudah begini, kita juga disebut penyebar kabar bohong dong? Lho, tapi sumber tautannya web resmi kok. Penanggung jawab berita juga ada. Reporter juga ada.

Jadi, siapa yang salah? Sementara, di luar sana banyak yang sudah membacanya.

Dan, oh! Mereka juga pasti saling membagikan kepada yang lainnya. Padahal, itu semua bohong.

Semua bagaikan rantai saling berhubungan. Saling membagi. Bisakah kita menghitung berapa yang sudah terkena dampaknya?

Suatu hari di kedai kopi

“Hey. Aku diblok sama temen kamu, Y. Aku gak bisa Whatsapp-an lagi deh.”

“Kok bisa? Seminggu lalu bukannya kita barengan nonton film di Braga? Masa sih? Coba aku cek Whatsappku.”

Beberapa saat…

“Yap. Nih aku masih bisa kok kontak dia”

“Atau jangan-jangan…”

“Kenapa?”

“Dua hari lalu aku bagi tautan Youtube tentang debat capres. Lalu, dia membela mati-matian calonnya. Aku juga gak mau kalah dong.”

“Kamu kasar kali chat-nya.”

“Enggak tuh, tapi kami sama-sama emosi sih.”

Pernah mengalami kejadian di atas? Pertemanan bubar hanya karena konten berita atau tautan lalu diperdebatkan bersama? Jangan-jangan kita semua pernah mengalami dan kadang kita bersifat ad hominem. Menyerang pribadi alih-alih mempertanyakan konten yang kita bagi.

Sekelumit percakapan di atas pasti pernah membumbui hari-hari kita. Menyulut emosi. Kadang gerah membacanya, tetapi sebagian masih mampu menahan diri untuk tidak secara terbuka mengatakan apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Sebagian memilih berkonfrontasi dengan risiko akhir kehilangan pertemanan. Seserius itukah? Iya. Jangankan demikian. Tengok grup Whatsapp keluarga juga. Relakah bahkan hubungan keluarga yang sangat penting dan hangat tiba-tiba buyar hanya karena debat mengenai konten tautan yang bahkan belum pasti benarnya?

Bertemunya teman-teman muda untuk literasi media dan politik

Semakin lama hal-hal di atas dibiarkan, semakin juga kita melihat runcingnya pertemanan hanya karena berbeda pendapat. Masih untung belum terjadi adu fisik. Eh, jangan sampai terjadi. Sementara itu, ratusan media baru tiba-tiba muncul di halaman gawai masing-masing. Bisakah kita larang? Tentu tidak. Pers juga memiliki hak untuk bersuara lewat berita dan tulisan yang mereka rilis. Konten-konten dalam Youtube pun punya hak dong untuk dirilis. Setiap dari kita pun teman-teman muda pasti tak ingin dihambat haknya oleh otoritas pemerintah untuk menerbitkan pemikiran-pemikiran kita.

Akan tetapi, konten yang seperti apa sih yang perlu ditampilkan dalam media? Teman-teman muda boleh kok memiliki aspirasi politik yang berbeda. Tidak mungkin kan dalam demokrasi hak bersuara akan tetap seragam. Akan selalu ada pro dan kontra. Ini yang justru butuh kedewasaan pikir teman-teman muda, terutama penting untuk terliterasi dengan bijak.

Seberapa penting kita sebagai teman-teman muda untuk terliterasi? Seberapa penting kita sadar bahwa politik itu akan selalu ada, namun kesadaran untuk tetap menjaga harmoni, terutama yang berkaitan dengan lintas agama, lintas suku, serta golongan harus tetap terbangun.

Pilihan politik berbeda itu wajar. Yang tidak wajar ketika kita harus berselisih paham hingga adu jotos dan pecah pertemanan dan keluarga. Gak banget, kalau kata teman-teman muda itu, istilahnya.

Salah satu institusi di Indonesia, International Center for Islam and Pluralism atau mudahnya disingkat ICIP bekerja sama dengan Tifa Foundation akhirnya melakukan inisiatif menyoal masalah yang dialami teman-teman muda dalam literasi media dan politik damai lintas agama. Dan, menariknya teman-teman yang diundang dalam Pelatihan Pendidikan Politik melalui Literasi Informasi dan Media pada 13 14 November 2018 di hotel Arion Swiss Bell, Bandung sangat beragam latar belakang, mulai dari agama dan apa yang sedang dikerjakannya. Misalnya, Sekartaji. Dia adalah salah satu penggiat di wirausaha muda dengan latar belakang Penghayat kepercayaan aliran “Perjalanan”. Lain lagi dengan Frederick Hia yang saat itu masih menjabat sebagai ketua PMKRI Bandung atau persatuan mahasiswa katolik republik Indonesia. Ada juga Nita Kusuma, penggiat di Peradah, organisasi muda Hindu. Evan dari jaringan kerja antar umat beragama mewakili Buddha. Andreas yang mewakili GMKI, gerakan mahasiswa kristen Indonesia. Fauziah alias Hale dari kesatuan wanita mudah Ahmadiyah. Ada penggerak media, seperti Rizky dari Savana Post.com dengan konten media yang sudah mendapatkan tempat banyak di hati teman-teman muda Bandung. Dan saya sendiri Fanny S. Alam, penggiat komunitas lintas agama dan lintas kelompok marginal lewat Sekolah Damai Indonesia Bandung. Serta, masih banyak teman-teman muda yang pantas disebut “influencer” dalam arti positif.

Mereka semua berkumpul dalam Pelatihan Pendidikan Politik melalui Literasi Media dan Informasi untuk Generasi Milenial Lintas Agama. Tapi, hey mengapa Bandung yang dipilih untuk pelatihan ini? Oh, teman-teman muda mesti tahu bahwa sebagai ibu kota Jawa Barat, Bandung memiliki risiko praktik intoleransi tinggi. Secara keseluruhan dari riset Setara Institute di tahun 2018 menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi paling intoleran di peringkat ke dua setelah DKI Jakarta terhadap agama dan kepercayaan lainnya, apalagi menjelang tahun politik. Tahun politik itu disinyalir merupakan praktik empuk berkembangnya hoaks dari media-media yang kurang kredibel, lalu penyebaran tautan-tautan yang sifatnya kabar bohong dan mendiskriminasi penganut agama dan kepercayaan lain serta pendukung kekuatan politik tertentu.

Kegiatan kami ini diisi dengan beberapa paparan kuliah dari beberapa narasumber yang merupakan akademisi dan praktisi penggiat media literasi. Selain itu, ada praktik langsungnya juga, terutama melalui pembuatan video singkat yang menyerupai konten-konten influencer damai Youtube. Tidak ada kata lelah dalam kamus kami. Pelatihan ini terkesan singkat dalam jadwal namun padat serta kontennya relevan dalam menyikapi sikap dan perilaku teman-teman muda dalam berpolitik melalui literasi media dan informasi, terutama terkait lintas agama yang dianggap masih sensitif.

Selesai sampai di sana? Tentu tidak. Kami masih “menjelajah” dengan berbagai kegiatan lanjutan yang relevan dengan pelatihan awal. Perhatian kami akan teman-teman muda yang mudah terprovokasi karena sebaran hoaks dan kurangnya literasi media menggugah ICIP untuk menyelenggarakan Kopi Darat Dan Deklarasi Millennials Anti Hate Speech 15 April 2019 di Telkom University. Dihadiri oleh banyak akademisi dan teman-teman muda Bandung serta narasumber seperti Kang Wawan Gunawan dari Jaringan Kerja Antar Umat Beragama, Ibu Yudaningsih mantan Komisioner KPU Kabupaten Bandung, Bapak Hadi Ketua Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia ) Jawa Barat dan Ira Wirasari, Dosen Desain Komunikasi Visual Telkom University, acara ini bisa menjadi tonggak kepedulian teman-teman muda akan situasi politik yang makin memecah belah persahabatan lintas agama. Sebagai penutup rangkaian dan peninjauan akhir dari seluruh program di atas, maka ICIP menggelar Evaluasi Akhir Pendidikan Politik melalui Literasi Informasi dan Media 8 – 10 Juli 2019 di Hotel Holiday Inn Bandung. Siapa yang hadir? Tentunya kami yang sejak awal berkomitmen dari pelatihan pertama hingga deklarasi. Dalam acara Evaluasi tersebut kami mempresentasikan Rencana Tindak Lanjut yang kami presentasikan pada acara Pelatihan

Hasil yang Diharapkan? Wah… sesuai Harapankah?

Kerja teman-teman muda yang turut serta dalam pelatihan ini sangatlah berdampak lho, terutama bagi teman-teman muda di kota Bandung. Literasi media dan informasi merupakan kunci kekuatan dalam menyaring informasi, apakah itu benar atau salah atau hanya ingin mendapat tren saja atau mendapatkan “likes” yang banyak, tetapi dampak negatifnya tidak diperhatikan. Teman-teman muda pelatihan ini memiliki banyak rencana tindak lanjut bagi komunitas-komunitasnya, seperti acara seminar, diskusi dan dialog rutin, pelatihan media. Jangan berpikir kami semua berhenti setelah pelatihan selesai. Masih banyak yang perlu dilakukan karena kami merupakan media bagi teman-teman muda di Bandung untuk sama-sama berbagi kisah positif dalam literasi media dan informasi terkait pendidikan politik bagi lintas agama. Sudah saatnya kami menjadi influencer bagi teman-teman muda di Bandung dan Jawa Barat umumnya. Tidak mudah memang karena masih banyak teman-teman muda terpapar informasi tidak kredibel, sehingga jangan heran kalau kejadian dimusuhi hingga diblok di berbagai media masih terjadi sampai sekarang.

Kami malah sibuk meneruskan kerja kami serta mempererat persahabatan. Siapa bilang persahabatan lintas agama sekaligus membicarakan banyak hal itu rumit? Enggak kok. Persahabatan ini harus tetap ada sebagai bukti keberhasilan pelatihan ini dan membangun kesadaran sebagai warga negara Indonesia yang cinta damai dengan semua perbedaan pilihan politik dan agama serta kepercayaan.

Mari kita lanjutkan! Salam damai.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp