Mencermati Perubahan Praktik Ibadah di Era Pandemi: Tinjauan Fatwa

Mencermati-Perubahan-Praktik-Ibadah-di-Era-Pandemi---Tinjauan-Fatwa
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp

Peran fatwa di Indonesia memang tidak bisa dihindari karena Indonesia adalah negara yang mayoritasnya berpenduduk Muslim. Fatwa tersebut memang tidak diputuskan sebagai bagian dari sumber hukum formal bagi hukum positif Indonesia, namun semangat fatwa terlihat jelas baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Baik pemerintah maupun masyarakat, mereka mempertimbangkan penggunaan fatwa untuk kehidupan sehari-hari. Selain itu, banyak aparatur negara yang berkonsultasi dengan lembaga fatwa sebelum membuat kebijakan publik.

Terlebih semenjak adanya pandemik Covid-19 yang mulai masuk ke Indonesia pada Maret lalu, seluruh masyarakat harus mengikuti protokol kesehatan, salah satunya yaitu menjaga jarak sosial (social distancing) dan jarak fisik (physical distancing) agar tidak terjadi penularan. Hal tersebut tentu berimplikasi pada tatanan kehidupan sosial keagamaan masyarakat. Dan seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang sangat religius.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Jeremy Menchik pada tahun 2016, persentase masyarakat Indonesia yang menganggap posisi agama sangat penting mencapai 98,8 persen. Persentase masyarakat Indonesia yang menganggap tempat ibadah dapat memberi jawaban persoalan sosial juga cukup tinggi, yakni 70 persen. Persentase itu, kata Jeremy, menjadi yang tertinggi dibandingkan negara demokrasi lain, seperti Amerika Serikat dengan 41,4 persen dan India 27,7 persen. Sementara, jumlah masyarakat Indonesia yang sering menghadiri acara-acara keagamaan mencapai 64,5 persen (setidaknya sekali sepekan). Persentase itu juga merupakan yang tertinggi dibandingkan AS yang mencapai 34,5 persen dan India sebanyak 41,7 persen.

Oleh karena itu, di masa pandemik Covid-19 ini, di mana setiap orang harus beribadah di rumah dan adanya pembatasan ritual-ritual keagamaan lainya, maka diperlukan fatwa-fatwa yang mendukung dan mendorong agar protokol kesehatan dijalankan dengan baik oleh masyarakat demi kemaslahatan bersama.

Tercatat beberapa lembaga keagamaan cukup responsif dalam menghadapi situasi pandemi ini, sebagai contoh Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan larangan penyelenggaraan salat berjemaah bagi umat Islam di tengah pandemi Corona. Larangan ini tercantum dalam Fatwa Nomor 14 Tahun 2020. Kemudian Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) mengeluarkan fatwa haram menggelar Salat Idul Fitri berjemaah di masjid atau lapangan. Fatwa tersebut terutama bagi umat Islam di daerah zona merah. Adapun Majelis Tarjih Muhammadiyah mengeluarkan fatwa tidak perlu menyembelih hewan kurban selama pandemi. Muhammadiyah meminta umat Muslim yang mampu berkurban diminta mengutamakan penanggulangan dampak ekonomi wabah Covid-19. Dan tentu masih banyak lagi fatwa-fatwa lainya yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga keagamaan lainya.

Adapun dalam konteks praktik ibadah di Era Pandemik, ada beberapa Fatwa yang cukup progresif sangat detail membahas hal tersebut. Sebagai contoh, Majelis Ulama Indonesia (MUI) merilis fatwa Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan jemaah untuk Mencegah Penularan Wabah COVID-19 pada Kamis, 4 Juni 2020. Dalam fatwa tersebut, MUI memberikan ketetapan hukum terkait Salat Jumat dengan merenggangkan saf dan dengan model shift selama masa pandemi COVID-19.

Kemudian, Lembaga Bahtsul Masail PBNU menyampaikan pandangan tentang Pelaksanaan Salat Jumat di Daerah Terjangkit Covid-19 pada 19 Maret 2020, bahwa orang yang tidak melaksanakan Salat Jumat 3 kali karena uzur Covid-19 tidak termasuk ke dalam golongan orang yang dimaksud dalam hadis sebagai “orang kafir atau munafik”. Selain itu, LBM PBNU menganjurkan umat Islam di zona kuning untuk mengambil dispensasi (rukhshah) dalam syariat Islam, yaitu melaksanakan Salat Zuhur di rumah masing-masing pada hari Jumat.

Begitu pun dengan Muhammadiyah, dalam Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19 disebutkan bahwa salat sebaiknya di rumah masing-masing, Salat Jumat diganti dengan Salat Zuhur, penggantian kalimat azan agar salat di rumah, tenaga medis dibolehkan tidak berpuasa dan salat Idul Fitri dilaksanakan di rumah.

Selain itu, ada juga sebagian umat Islam yang berijtihad secara mandiri dengan menggelar dan mengikuti Jumatan secara daring untuk mengakomodir umat Muslim yang tetap ingin melaksanakan Salat Jumat di Era Pandemik ini. Dalam hal ini, tentu mereka juga memiliki referensi dan sumber hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melihat betapa pentingnya peranan fatwa untuk menjadi panduan dalam praktik ibadah di era pandemik seperti sekarang ini, maka dari itu Indonesian Centre for Islam and Pluralism (ICIP) bekerja sama dengan Oslo Coalition akan mengadakan Lokakarya Daring dengan tema “Mencermati Perubahan Praktik Ibadah di Era Pandemi: Tinjauan Fatwa”.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp