Kolonialisme, Islam, dan Neokolonialisme

Kolonialisme-Islam-dan-Neokolonialisme
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp
Syafiq Hasyim

Syafiq Hasyim

Direktur Senior ICIP, wakil ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), mendapatkan gelar Dr. Phil. dari Berlin Graduate School Muslim Cultures and Societies, Freie Universitaet, Berlin, Jerman.

Dari pidato yang disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, saya tertarik dengan improvisasi beliau terkait dengan penggunaan istilah kolonialisme di Jakarta. Saya tidak akan bicara masalah ini dalam penilaian salah benar, melainkan ingin mencocokkan penggunaan istilah kolonialisme dalam perspektif teori.

Pertanyaannya adalah apakah penggunaan istilah kolonialisme yang dikaitkan dengan konteks Jakarta kekinian secara teori bisa dicarikan pijakannya? Mengingat Indonesia dan Jakarta sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, mana yang mungkin lebih tepat untuk dipakai? Apakah kolonialisme (penjajahan) atau neokolonialisme (penjajahan baru)?

Kolonialisme

Sejarah kolonialisme adalah sejarah yang sangat tua. Tidak hanya terjadi pada zaman klasik, namun juga pada zaman modern. Istilah kolonialisme pertama kali muncul dalam tradisi Barat.

Dalam sejarah kebahasaan Inggris, isitlah ini pertama kali muncul dalam terjemahan Bibel ke dalam bahasa Inggris yang dilakukan John Wycliffe pada tahun 1382 M. Pada tahun 1582 istilah ini kembali muncul dengan merujuk pada istilah “colony” yang menjelaskan soal pendudukan (settlement) di sebuah negara. Istilah “colony” inipun berasal dari bahasa Latin colonia, yang berarti daerah pendudukan yang dihuni oleh para prajurit dalam sebuah wilayah yang ditundukkan (Chris Gosden, Archaeology and Colonialism: Cultural Contact from 5000 BC to the Present, 2004).

Rujukan-rujukan moderen mendefinisikan kolonialisme sebagai perluasan pemerintahan sebuah negara atas wilayah yang bukan wilayah pemerintahan tersebut. Aktivitas yang berorientasi pada pembukaan wilayah baru secara generik adalah kegiatan kolonialisme. Para kolonial ini menyebut negara mereka sebagai “parent state.”

Ilustrasi negara terjajah adalah pencaplokan wilayah, ketertindasan manusia, kerja dan tanam paksa, keterbelakangan, pembunuhan dan hal-hal buruk lainnya.

Lalu, apakah di dalam kolonialisme tidak pernah muncul hal yang selain digambarkan oleh dunia moderen seperti tersebut di atas?

Ternyata, di kalangan kaum kolonial terjadi semacam pergeseran cara pandang atas penjajahan yang mereka lakukan. Mereka mencoba untuk menyatakan jika apa yang mereka lakukan adalah sumbangan peradaban

Pada abad 18 M muncul istilah “civilizing mission” di kalangan mereka. Istilah ini mulai muncul pertama dalam bahasa Prancis, mission civilisatrice, karena inilah yang dipraktikkan oleh Prancis untuk negara-negara jajahan mereka. Istilah ini muncul didasarkan dua hal; pertama, supremasi kebudayaan Prancis dan kesempurnaan manusia. Dengan ini Prancis yang menjajah itu ingin mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan dalam kolonialisme adalah untuk perbaikan dan kemajuan wilayah yang mereka jajah. Negara yang menjajah adalah negara yang maju. Sementara negara yang dijajah adalah negara yang terbelakang dan tidak mampu mengelola negara mereka -oleh karenanya, penjajah harus membantu memajukannya. Sejak 1895, civilizing mission dijadikan sebagai ideologi kaum kolonial, terutama Inggris dan Prancis (Harald Fischer-Tine dan Michael Mann, Colonialism as Civilizing Mission, 2004).

Perubahan kecenderungan di atas merupakan hal yang membedakan antara kolonialisme konvensional yang mengutamakan penaklukan wilayah dengan kolonialisme moderen yang berorientasi pada kapitalisme.

Pertanyaan kita, apakah Indonesia dan Jakarta sekarang secara kasat mata merupakan wilayah yang ditaklukkan secara geografis? Jawabnya tidak.

Islam

Persoalan kolonialisme ini membuat saya berpikir soal perluasan wilayah oleh penguasa-penguasa Islam pada zaman dulu. Pertanyaan persisnya: Bagaimanakah kita menilai perluasan atau pendudukan wilayah baru -baik pada zaman para sahabat maupun pada zaman Dinasti Ummayah, Abbasiyah, Dinasti Mongol, dan lain sebagainya itu bisa disebut sebagai kolonialisme dalam pengertian asalnya? Apakah kolonialisme hanya bisa disematkan pada kegiatan pendudukan teritori yang didorong oleh motif politik dan ekonomi ataukah juga termasuk yang memiliki motif dakwah? Mengapa kolonialisme itu pengertiannya hanya bias untuk Emperium Romawi, Penjajah Prancis, Inggris, dan sejenisnya?

Di dalam fiqih Islam, sebenarnya, dikenal juga konsep pembukaan wilayah baru (ihya’ al-mawat) untuk dihidupkan. Wilayah yang tadinya mati karena terdiri dari tanah kosong, semak belukar, hutan, atau sejenisnya, kemudian dihuni dan dihidupkan.

Namun pembukaan wilayah baru dalam versi fiqih Islam ini terjadi untuk wilayah yang tidak ada penghuninya. Sementara kolonialisme bisa dua-duanya: wilayah yang berpenduduk dan wilayah yang tidak berpenduduk. Namun satu hal yang tidak bisa dilupakan di sini bahwa kolonialisme merupakan pendudukan yang nyata, bukan sesuatu yang abstrak.

Dalam catatan sejarah, kita tidak bisa menghindar jika perluasan wilayah kekuasaan Islam memiliki elemen aktivitas sebagaimana yang terjadi dalam kolonialisme. Islam membahasakan dengan futuh, pembukaan wilayah baru.

Dinasti Ummayyah dan Abbasiyah malah melakukan perluasan wilayah sampai dengan dataran Eropa. Namun sumber-sumber sejarah keislaman dan juga Barat tidak pernah menyebutnya sebagai kolonialisme Islam meskipun pada dasarnya itu merupakan kegiatan dalam hal “settlement in a country”. Bahkan buku-buku sejarah kolonialisme lebih banyak mengulas bagaimana negara-negara Islam melakukan perlawanan terhadap Barat. Hal ini mungkin disebabkan -setelah kemunduran kekuasaan dinasti-dinasti Islam- justru negara Islam yang terjajah, sementara narasi penjajahan setelah itu lebih diproduksi oleh dunia Barat.

Namun ada hal yang menarik. Dalam kenyataan sejarah, para penakluk (negara kolonial) moderen seperti Inggris, Belanda, dan Prancis menggunakan Islam sebagai alat penaklukan. Politik yang mereka jalankan biasa disebut dengan istilah appropriasi Islam. Kolonial Inggris mengambil otoritas kepemilikan atas Islam di negara-negara Islam yang mereka jajah. Mereka menempatkan Islam sebagai agama yang sangat penting. Dengan mengambil kepemilikan atas Islam (ownership of Islam), maka sesungguhnya para penakluk ini mengontrol orang-orang Islam (Muslim).

Neokolonialisme

Secara teoritik istilah yang tepat untuk Jakarta atau Indonesia kekinian bukan kolonialisme; melainkan -dalam istilah Bung Karno neokolim (neocolonialism and imperialism). Hal ini disebabkan karena Indonesia adalah negara merdeka, bukan negara jajahan.

Jean-Paul Sartre menulis buku dalam bahasa Prancis, yang terjemahan Inggrisnya muncul pada tahun 2001 dengan judul Colonialism and Neocolonialism. Pembedaan penggunaan istilah colonialism dan neocolonialism tersebut menunjukkan keduanya berbeda pemaknaan.

Beberapa penulis moderen juga berusaha membubuhkan penggunaan istilah “baru” di depan kolonialismemenjadi neocolonialismuntuk menunjuk kepada hal yang terkait dengan penguasaan dan pendudukan pengetahuan, kebijakan dan kapital negara tertentu atas negara lain. Sebagian lain menggunakan istilah post-colonialism untuk mendeskripsikan keadaan negara-negara yang dulu mengalami kolonialisme (Ania Loomba, Colonialism/Postcolonialism, 1998). Perlu dicatat bahwa pada tahun 1930, lebih dari 80 persen negara-negara di dunia mengalami penjajahan oleh negara-negara penjajah.

Jika kita ingin mendeskripsikan bahwa Indonesia -atau Jakarta pada khususnya- sedang berada dalam penguasaan dan eksploitasi modal oleh kapitalisme dunia, atau bahwa usaha “orang pribumi” kalah dengan “non-pribumi”, maka istilah tepat bukanlah kolonialisme, melainkan neocolonialism dan post-colonalism.

Selain lebih teoritis dan konseptual, kedua istilah terakhir ini bisa lebih menggambarkan situasi riil yang terjadi di Indonesia sebagai negara yang sudah merdeka. Positifnya lagi, penggunaan kedua istilah itu akan menggiring pada debat publik yang lebih filosofis dan mendasar ketimbang perdebatan yang dimunculkan akibat penggunaan kolonialisme.

Wallahu ‘alamu bi al-shawab.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp