Kita, Umat Islam dan Defisit Penalaran Rumit

Kita-Umat-Islam-dan-Defisit-Penalaran-Rumit
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp
Syafiq Hasyim

Syafiq Hasyim

Direktur Senior ICIP, wakil ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), mendapatkan gelar Dr. Phil. dari Berlin Graduate School Muslim Cultures and Societies, Freie Universitaet, Berlin, Jerman.

Akhir-akhir ini, menjelang tahun politik, kita sering mendengar dan membaca ungkapan-ungkapan bipolaristis dan sarkastis yang muncul di antara kita seperti “sumbu pendek”, “kecebong”, “bong”, “kampret”, “bani micin” dan lain sebagainya. Dunia media sosial yang semakin mempribadi dalam keseharian kita ikut mempertajam skisma virtual yang tidak jarang terbawa ke dalam skisma faktual.

Dalam perspektif sosiologis dan politis, ungkapan-ungkapan di atas tidak muncul begitu saja, tapi erat kaitannya banyak hal antara lain kontestasi kekuasaan di ruang publik. Terlepas dari dinamika sosiologis dan politis di atas, kehadiran istilah-istilah tersebut mencerminkan fenomena malas berpikir rumit dan kompleks di kalangan kita.

Kita secara umum cenderung ingin menilai dan menjadi hakim bagi hal-hal yang muncul di hadapan mereka secara cepat, tanpa memikirkan faktor-faktor njelimet yang menyebabkannya. Seolah-olah hidup kita ini dikejar oleh raksasa waktu yang menginginkan kita bereaksi cepat atas segala yang hadir di depan kita. Berpikir soal sebab akibat yang panjang dan runut tampaknya sudah menjadi barang mewah bagi kita saat ini.

Akibat cara pola pikir buru-buru inilah, ungkapan-ungkapan yang muncul tampak bermakna pendek dan tidak mengilhami sebuah perdebatan ilmiah yang mencerahkan. Justru, hal yang keluar justru bukan debat ilmiah, namun keadaan saling olok dan caci maki.

Duplex veritas

Pola pikir pendek digandrungi oleh banyak kalangan akhir-akhir ini justru karena “simplicity”-nya (kesederhanaannya), meskipun hal itu banyak berlawanan dengan fitrah kemanusiaan itu sendiri yang cenderung kompleks. Dengan berpikir pendek, argumen yang kita temukan tidak mematikan lawan, namun sebaliknya, menyediakan lawan untuk mematikan argumen kita.

Untuk mencapai sebuah kebenaran butuh nalar panjang, sesuai dengan watak kebenaran itu sendiri yang bukan hal sederhana. Nabi Muhammad pernah berkata, buru-buru adalah bagian dari pekerjaan setan.

Mengapa berpikir pendek atau cupet layak kita hindarkan?

Berpikir pendek itu identik dengan ketertutupan dari kebenaran pihak lain, lemah bukti dan argumen, serta memberikan peluang klaim kebenaran. Pola bernalar seperti ini mungkin berguna bagi politik yang bising, namun tidak berguna bagi upaya pencarian kebenaran pemikiran dan tindakan.

Fenomena sosial, politik, keagamaan adalah hal yang rumit; bukan gambaran tunggal sebuah ide atau satu organisme saja.

Karl Marx –filosof Jerman- pernah menyatakan jika masyarakat itu sendiri pun merupakan ekspresi dari “sum of interrelations” (kumpulan dari interrelasi) dan setiap orang berdiri dan berpijak atas interrelasi mereka masing-masing. Hal ini untuk menunjukkan bahwa memahami kebenaran kemanusiaan itu sebangun dengan memahami inter-relasi mereka yang rumit dan kompleks.

Pola pikir pendek sulit memenuhi unsur-unsur kompleksitas dan kerumitan yang ada pada diri manusia.

Berpikir cupet itu tidak sama dengan “straight to the point”. Berpikir langsung kepada pokok masalah bisa dilandasi oleh pola berpikir yang rumit dan panjang.

Apa yang kita cari dengan cara berpikir rumit dan panjang sebenarnya bukan kerumitan dan panjang-lebarnya itu sendiri, namun berpikir model itu membuka peluang lebar untuk berpikir secara koheren, korespondensial dan komprehensif dalam menemukan kebenaran.

Di hampir seluruh kemajuan bangsa-bangsa di dunia, tradisi berpikir rumit dan kompleks menjadi ciri mereka. Bangsa Yunani, Romawi, Bani Ummayyah, Bani Abbasiyah, dan masih banyak lagi menunjukkan puncak kemajuan peradaban mereka ketika para cendekiawannya, pemimpin agama dan politik bersedia berpikir rumit dan kompleks untuk setiap tindakan dan ucapan mereka.

Berpikir rumit identik dengan berpikir hati-hati, tidak hitam putih, berusaha memahami semua faktor dalam mengambil kesimpulan dan ini semua yang dibutuhkan oleh sebuah peradaban.

Filsuf terbesar Islam, Ibn Rusyd, pernah memperkenalkan cara berpikir yang menganggap bahwa kebenaran itu bukan bersumber dari satu hal saja, tapi juga bisa dari hal lain (duplex veritas). Ia menyatakan kebenaran bisa berasal dari kitab suci (Alquran) dan filsafat, dua sumber yang dulunya dipertentangkan.

Kebenaran filsafat dan kebenaran Qurani saling menguatkan (lihat kitab Ibn Rusyd, Faṣl Maqāl fī Bayna al-Ḥikma wal al-Sharīʿat). Pola pikir yang bisa menghasilkan duplex veritas ini bisa dicapai antara lain melalui proses takwil berpikir pada esensi kebenaran yang tampaknya jauh dari maka literal.

Politik identitas

Indonesia, pada zaman Orde Lama, pernah ditandai dengan kebangkitan politik identitas. Pada zaman Orde Baru politik identitas terpinggirkan dari permukaan karena kuatnya kontrol rezim Suharto atas seluruh identitas yang berbeda dengan identitas rezim Suharto.

Reformasi membuka peluang bagi kemunculan politik identitas justru karena kita membuka ruang demokrasi. Dalam demokrasi, pihak-pihak yang berkontestasi bukan saja mereka yang ingin kehidupan demokrasi tegak, namun juga mereka yang menentang. Mereka yang menentang hanya bisa berjuang lewat ruang demokrasi.

Pada akhirnya keduanya akan terlihat di babak akhir; pejuang demokrasi akan konsisten dengan demokrasi; politik identitas hanya menggunakan demokrasi untuk kekuasaannya.

Politik identitas ini adalah penjelasan teoritis yang nyata soal bagaimana politik didasarkan pada jalan pikir yang tidak rumit. Zaman dulu, ungkapan pembelahan berdasar identitas yang cukup terkenal untuk umat Islam adalah “minna” (bahasa Arab, golongan kita) dan “minhum” (golongan mereka). Namun ungkapan tersebut perlahan hilang dari social imagery umat Islam Indonesia.

Kini, politik identitas menyeruak kembali di banyak belahan dunia termasuk di negara kita. Kehadirannya benar-benar bisa membelah kita ke dalam kelompok pro dan kontra, hitam dan putih.

Penggunaan politik identitas adalah cerminan dari keengganan kita bahwa di luar agama, ras dan darah ada relasi-relasi kompleks dan rumit lain yang menuntun kita pada arah kebenaran.

Pilihan ini sebenarnya merugikan karena berpikir pendek dan sederhana menunjukkan pertimbangan dan rujukan yang kita gunakan juga pendek dan sederhana. Hal yang paling berbahaya dari model berpikir ini adalah simplifikasi dan stigmatisasi. Alih-alih kebenaran yang didapatkan, berpikir konspiratif dan prejudis adalah hasil berpikir pendek ini.

Pertanyaannya, mengapa politik begitu penting sehingga persoalan identitas pun dikorbankan untuk mendukung politik?

Asef Bayat menjelaskan secara baik dalam tulisannya, segala hal yang praktis pada dasarnya memiliki kewajiban untuk diwujudkan dalam realitas politik.

Literalisme

Apakah menghindar dari pola pikir rumit dan kompleks pernah terjadi tradisi di dalam agama-agama?

Di dalam tradisi Islam, kecenderungan berpikir pendek itu pernah terjadi. Kelompok berpikir pendek awal adalah kaum Khawarij. Kelompok ini memaknai kitab suci dalam pengertian harfiyyah (paling pendek).

Mereka tidak suka dan bahkan memusuhi orang-orang yang berpikir yang berdasarkan pikiran panjang (ra’yun). Dalam tradisi fiqih kita mengenal mazhab Dzahiriyyah yang dipelopori oleh Ibn Hazm al-Andalusi. Mazhab ini pernah menjadi salah mazhab utama di awal sejarah Islam di kawasan Islam Eropa.

Pola pikir sejenis ini menghilang perlahan dari sejarah Islam dan digantikan cara berpikir rumit dan kompleks yang menggabungkan cara induktif dan deduktif. Al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd adalah para filosof dan sarjana Islam masa keemasan yang mengadopsi berpikir rumit dan kompleks tersebut.

Hasilnya bisa kita lihat dari keunggulan keilmuan teoritis dan empiris yang mereka tinggalkan. Buku Ibn Sina, al-Qānun fī al-Ṭibb, misalnya, masih menjadi kurikulum utama fakultas kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Dari catatan di atas, menghindar -apalagi menolak- pola pikir panjang dan kompleks tampaknya akan lebih banyak membawa kerugian daripada keuntungan bagi kehidupan kita karenanya sebisa mungkin kita hindarkan menjelang tahun politik ini.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp