Empati digital bagi generasi milenial

It-takes-a-village-to-rise-a-child
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp
Farinia Fianto

Farinia Fianto

Direktur Pelaksana ICIP, anggota Satgas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud, dan co-founder Perkumpulan Literasi Indonesia (PLI).

It takes a village to raise a child

Tantangan terbesar dalam pengasuhan dan pendidikan generasi milenial di era digital adalah mengatasi ancaman ancaman konten negatif di internet seperti pornografi, berita bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), penipuan (scam dan fraud), kecanduan (addiction), perundungan (bullying) dan pemangsa anak (child predator). Terlebih banyak pelaku dan korban fenomena di atas banyak berasal dari generasi milenial , di mana mereka rentan menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Belum lagi fenomena gagal move on pemilihan presiden (pilpres) tahun 2014 dan pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta yang berujung dengan lahirnya nyinyirisme di kalangan warganet.

Rentannya generasi milenial terpapar dengan ancaman konten negatif internet di atas tentu saja amat meresahkan karena masa depan bangsa menjadi pertaruhannya. Edukasi adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini, baik pemerintah maupun masyarakat pun menyadari hal ini. Sejatinya setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda dalam mendidik dan membesarkan generasinya, namun revolusi teknologi yang terjadi saat ini tak ayal membuat perubahan pola pikir, perilaku dan budaya yang drastis dan signifikan. Pergeseran teknologi membawa begitu banyak manfaat bagi manusia dalam menyelesaikan rutinitasnya, namun di saat yang bersamaan ancaman dan bahaya di atas pun mengintai. Selain persoalan bahaya internet, masalah utama lainnya adalah ketika ada kesenjangan pola pikir, perilaku dan budaya antara generasi milenial yang notabene merupakan digital netizen dengan generasi sebelumnya yang merupakan digital migrant. Pada tingkat tertentu kesenjangan ini acap kali mengakibatkan kesalahpahaman yang berujung kepada munculnya konflik antar generasi. Jika isu ini diacuhkan tentu akan menimbulkan implikasi serius dikarenakan generasi milenial merasa dikekang dan tidak didukung begitu pula sebaliknya generasi digital migrant merasa tak dihormati dan dihargai.

Persoalan lain yang menjadi akar dari ancaman teknologi digital adalah persepsi orang tentang internet atau dunia virtual. Banyak yang beranggapan bahwa dunia virtual tidaklah sama dengan dunia keseharian, sehingga ini berimplikasi terhadap perilaku orang di dalam dunia virtual. Realitanya seseorang bisa jadi memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang antara di kehidupan sehari-hari dan di dunia virtual, tak sedikit yang menciptakan persona dan imaji yang merupakan perwujudan impian atau obsesinya yang tidak bisa diwujudkan di dalam dunia keseharian. Kebebasan dan keterbukaan yang ditawarkan internet dan media sosial membuat sebagian terjebak ke dalam euforia terlebih belum ada hukum dan sanksi yang setimpal bagi mereka yang tidak bertanggung jawab di dunia virtual.

Untuk menjawab tantangan dan problema tersebut, literasi informasi media dan digital pun didesain, dikembangkan dan dikampanyekan oleh berbagai elemen di masyarakat dan juga pemerintah. Literasi digital adalah kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk memperoleh dan mengakses informasi untuk mencari dan mengaplikasikan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Berpikir kritis menggunakan akal sehat (common sense) adalah kunci dari aktivitas literasi, namun sayangnya cerdas dalam literasi digital belumlah cukup. Banyak warganet yang cukup literat namun masih saja terjebak ke dalam penyebaran ujaran kebencian, berita bohong, dan nyinyirisme.

Berpikir kritis menggunakan akal sehat tidak cukup dan belum sempurna untuk mengatasi problema di atas, oleh karena itu literasi digital perlu menyertakan digital empati sebagai pilar utama selain berpikir kritis menggunakan akal sehat. Apa itu digital empati? Menurut pakar komunikasi Dr Yonty Friesem, empati digital adalah sebuah kemampuan kognitif dan emosional untuk menjadi reflektif dan bertanggung jawab secara sosial saat menggunakan media digital . Sejatinya tidak ada perbedaan yang mencolok antara “empati digital” dan “empati (konvensional)” di dalam kehidupan sehari-hari, keduanya sama sama merujuk kepada kemampuan kognitif, emosi, dan afeksi seseorang dengan memosisikan dirinya sebagai orang lain sehingga mampu mengenali perasaan dan emosi yang dialami oleh orang lain.

Literasi digital secara holistik menekankan kepada aplikasi berpikir kritis, berakal sehat dan berempati yakni membuka diri menyelami perspektif lain sehingga mampu memahami dan merasakan dari perspektif berbeda sehingga memunculkan sikap dan karakter yang berintegritas dan humanis.

Berangkat dari kutipan it takes a village to raise a child dalam konteks era digital ialah bagaimana mendidik dan mengasuh anak merupakan tugas dan tanggung jawab kolektif semua kalangan mulai dari tataran paling besar yaitu negara (bahkan mungkin warga dunia) sampai kepada unit terkecil yakni individu, bukan hanya tanggung jawab orang tua dan guru terlebih membebankannya kepada orang tua semata. Bagaimana semua terlibat secara aktif dalam mempersiapkan dan membekali generasi milenial di dalam kehidupan sosial dengan merujuk kepada etik, norma dan kearifan baik itu yang bersifat lokal maupun universal. Nilai-nilai agama dan kearifan lokal dapat menjadi code of conduct dalam berinteraksi dan bersosialisasi di internet dan media sosial perlu didesain, dikembangkan dan disosialisasikan secara konstan agar dengan mudah diaplikasikan. Perlu ditekankan bahwa teknologi sejatinya hanyalah alat dan sarana untuk memperoleh informasi yang dikembangkan untuk dijadikan pengetahuan serta menjadikan komunikasi menjadi mudah dan efektif.

Singkatnya menumbuhkembangkan dan memperkuat empati digital harus dilakukan dalam tidak tataran, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Negara dalam hal ini pemerintah tentu saja harus hadir dan memfasilitasi penguatan literasi digital yang holistik ke dalam undang-undang dan kebijakan. Pada tataran keluarga, perlu dikembangkan tradisi berdiskusi antar anggota keluarga serta penanam tentang nilai dan tata karma yang berlaku universal dan di mana saja. tekankan kepada seluruh anggota keluarga bahwa prestasi yang hakiki adalah dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungan bukan dengan hal yang bersifat artifisial seperti seberapa banyak pengikut (followers) dan like yang dimiliki dalam jejaring sosial.

Pada tataran sekolah, warga sekolah perlunya aplikasi berpikir kritis dan melaksanakan praktik bersosialisasi termasuk sosialisasi di dalam dunia virtual untuk menumbuhkan empati digital. Pada tataran masyarakat perlu dikembangkan sanksi sosial hingga perlindungan hukum. Penegakan hukum dan undang-undang tentang apa itu kejahatan siber dan kriterianya serta sanksi yang tegas perlu diberlakukan kepada mereka yang menjadi pelaku. Membangun budaya debat dan kritik konstruktif didasari dengan sifat tabayun merupakan bagian dari empati digital. Konsep menghormati dan menghargai pendapat yang dicontohkan para imam mazhab di dalam agama Islam juga semestinya menjadi landasan bagi generasi Muslim milenial di dalam membangun dan memperkuat kultur berargumentasi. Selain itu mendorong generasi milenial untuk aktif terlibat di dalam berbagai perjumpaan dan pertemanan hingga memiliki aktivitas bersama di dalam dunia keseharian dan juga dunia virtual. Tekankan bahwa media sosial adalah saran untuk membangun jaringan untuk memperkuat persaudaraan bukan sebaliknya. Dengan terus mengedukasi generasi milenial mengenai literasi digital dan juga empati digital, ancaman dan bahaya internet pun tidak mustahil dapat diredusir secara signifikan dan akan memperkuat karakter dan integritas untuk menghadapi era persaingan bebas.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp