Dimensi Manusia Nusantara dalam Puasa dan Idul Fitri

Dimensi-Manusia-Nusantara-dalam-Puasa-dan-Idul-Fitri
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp
Syafiq Hasyim

Syafiq Hasyim

Direktur Senior ICIP, wakil ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), mendapatkan gelar Dr. Phil. dari Berlin Graduate School Muslim Cultures and Societies, Freie Universitaet, Berlin, Jerman.

Idul Fitri, atau sering diistilahkan dengan Hari Raya Lebaran, adalah momen penting di kalangan umat Islam Indonesia. Saya sebut umat Islam Indonesia karena tidak semua umat Islam di dunia merayakan Idul Fitri dengan segegap-gempita, sepenuh-kebahagian dan sesuka-cita orang Indonesia. Di beberapa negara Timur Tengah, Idul Adha dirayakan lebih meriah dibanding Idul Fitri.

Dalam buku yang dieditori oleh Ken Albala Cultures of the World Encyclopedia, Idul Fitri digambarkan sebagai festival setelah Ramadan dan Idul Adha adalah peringatan untuk pengorbanan Nabi Ibrahim atas anaknya, Ismail. Idul Adha lebih luas jangkauannya karena di sini bertepatan dengan penyelenggaraan Ibadah Haji. Karenanya adalah wajar apabila peringatan Idul Adha lebih menginternasional dibandingkan dengan Idul Fitri.

Namun bagi orang Indonesia, Idul Fitri adalah suatu hal yang lain. Di Indonesia, orang rela mengantri dan meniti jalan panjang kemacetan untuk bersilaturahmi dengan orang tua, sanak keluarga dan teman-teman, di wilayah yang jauh dari tempat tinggal kita.

Lebaran mampu menggerakkan ekonomi nasional karena konsumsi dan perpindahan orang dengan uang yang mereka bawa dari satu daerah ke daerah lain, dari satu tempat ke tempat alin. Sungguh “lebaran” adalah selebrasi keagamaan terbesar di tanah air karena melibatkan seluruh umat Islam Indonesia tanpa terkecuali, besar-kecil, tua-muda, laki-perempuan, desa-kota, kaya-miskin.

Idul Fitri adalah hari perayaan bagi mereka yang berpuasa. Dalam ragam tradisi di Indonesia, masing-masing orang akan meminta permaafan kepada orang tua bagi yang lebih muda dan orang tua memberikan permaafan kepada mereka yang lebih muda. Paling utama adalah orang tua biologisbapak dan ibudan ke atasnenek dan kakek dan seterusnya, sanak saudara, tetangga dan teman-teman. Ketika orang tua sudah sudah wafat, maka biasanya kita akan pergi ke makam untuk menziarahi mereka, membacakan doa bagi mereka, begitu usai salat Idul Fitri.

Hal seperti ini sebenarnya tidak harus dilakukan saat Idul Fitri, namun bagi orang Indonesia, Idul Fitri adalah kesempatan yang terbaik. Namun permaafan ini adalah untuk daily wrongdoings, seperti salah kata, gesekan pribadi, bukan peristiwa besar seperti kejahatan, utang piutang dan lain sebagainya. Urusan-urusan besar tetap harus diselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Semua tindakan di atas pada dasarnya adalah simbolisasi kita untuk kembali kepada keadaan yang asal. Apa yang asal dalam kehidupan manusia adalah fitrah kita sebagai manusia.

Fitri di sini memiliki makna suci, bersih, dan sesuai dengan asal sebagaimana Sabda Nabi bahwa manusia pada hakikatnya dilahirkan dalam keadaan fitri. Karenanya, ucapan-ucapan yang disampaikan sesaat setelah Idul Fitri seperti minal aa’idin wal faaizin, taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya kariim -dan lainnya- adalah hal yang sangat dekat secara makna dengan keadaan fitri tersebut.

Dari dimensi agama, Hari Raya Idul Fitri adalah momen dimana manusia berefleksi tentang diri mereka (muhasabah), tentang orang lain dan juga tentang Tuhannya setelah menjalani puasa sebulan penuh. Letak hikmah bermula dari hari pertama Idul Fitri sampai hari-hari kembali lagi ke Idul Fitri berikutnya. Dalam interval waktu tersebut, kita dikatakan sebagai sukses dan menang apabila mampu menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Jika kita mampu mencapainya, maka hikmah puasa itu bisa diraih.

Benar, puasa meninggalkan hikmah, namun tidak semua orang mau meraih dan mempertahankan hikmat tersebut di paska puasa. Dalam era sosial media, hikmah puasa tenggelam dalam ramai-riuhnya orang bermedia sosial. Bahkan puasa tidak mampu menghentikan perdebatan politik, aliran berita hoax, saling menghina, bullying, dan macam-macam lainnya.

Nampaknya, bangsa ini tidak pernah libur dari isu kontroversi di media sosial. Asumsi tradisional, bulan puasa adalah saatnya kita fokus pada perbuatan-perbuatan baik yang salah satunya adalah menahan diri, yang disimbolkan dalam Islam dengan “inni shaa’imun”, yang berarti saya sedang puasa.

Maksud dari ungkapan tersebut adalah kekuatan untuk menahan diri. Bukti paling gampang seseorang tidak mampu menahan diri adalah mudahnya ngomong dan berkomentar. Namun asumsi yang demikian, terasa semakin tipis menjadi kebenaran bagi kita.

Apabila kita amati, terutama pada tingkat keramaian publiknya, tampak kesalehan sosial memang meningkat di kalangan umat Islam di Indonesia. Secara kasat mata, semakin banyak orang terdorong untuk membayarkan zakat, memberikan santunan kepada anak yatim serta kepada mereka yang lemah dan terlemahkan, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Namun kita tidak bisa mengabaikan juga bahwa praktik pengkhianatan terhadap kesalehan sosial itu pun semakin meningkat, seperti meningkatnya tindakan korupsi. Korupsi adalah kejahatan manusia terkejam karena tindakan itu menghalangi manusia lain untuk hidup.

Dimensi lainnya, puasa yang merupakan simbol solidaritas atas yang lemah pun ternyata tidak mampu mengerem tingkat konsumsi atas makanan dan barang-barang produksi lain di kalangan kita. Ini adalah contoh-contoh paradoksal dari kehidupan kita sehari-hari yang senantiasa terjadi dari puasa ke puasa dan dari lebaran ke lebaran.

Lalu dimana letak makna bagi kita?

Puasa sebulan penuh dan perayaan Idul Fitri yang begitu kaya dengan makna kerendahan hati, kesalehan sosial, filantropi seharusnya mampu menjadi cerminan bagi pribadi dan karakter orang Nusantara. Apalagi perayaan ini dilakukan setiap tahun sekali sehingga internalisasi nilai-nilai ke dalam bentuk tindakan sehari-hari lebih mendalam.

Namun, kenapa hal itu tidak terjadibahkan intensitasnya tidak mengalami penurunan? Jawabnya kembali kepada kita semua: sejauh mana kita mampu memandang ibadah kitayang ikhlas karena Allahmemiliki dimensi kemanusiaan dan perubahan sosial.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp