Asyik Kongkow Belajar Politik

Asyik Kongkow Belajar Politik
Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp

Jadi, pas tanggal 13 – 16 November 2018, aku Yanti Oktaviyani sebagai perwakilan dari organisasi Aliran Kebatinan Perjalanan ikut kegiatan Pelatihan Pendidikan Politik melalui Literasi Media dan Informasi untuk Generasi Milenial Lintas Agama Di Jawa Barat yang diselenggarain oleh International Center Islam and Pluralism. Ini adalah cerita aku nih, Guys, mengenai kegiatan tersebut. Seru banget dan inspiratif lho.

Apa itu politik?

Banyak banget definisi politik secara umum, beberapa seperti

Politik itu proses pembentukan kekuasaan, strategi untuk mencapai kepentingan, politik itu ya tidak mesti partai, alat untuk mengakomodasi kepentingan, politik itu tentang etika atau melayani dan sebagainya.

Kalo menurut kamu sendiri, politik itu apa sih?

Berpolitik?

Dalam berpolitik kita bisa melihat implikasi atau dampak yang kita rasakan, salah satu contoh negatifnya masih banyak terjadinya “money politics”, dilihat dari sisi politik kita diberi kebebasan dalam menyampaikan pendapat terutama dengan terbantunya oleh media.

Berpolitik juga bertujuan untuk melindungi hak-hak semua warga negara, menyejahterakan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia, dengan kebijakan publik yang ada, berpendidikan politik juga tentunya untuk meningkatkan pendidikan demi memajukan bangsa dan negara, serta menjaga kondisi yang kondusif.

Citra politik di Indonesia?

Citra politik di Indonesia tentunya masih dalam kondisi yang bergejolak, contoh kita lihat citra politik pada partai politik yang masih sangat buruk, diperkuat media. Memang kita tahu bahwa berpolitik tidak melulu partai politik.

Kira-kira berpolitik versi kamu kayak gimana sih?

My opinion and my impression from this event

  1. Aku merasa, dengan kegiatan pelatihan ini, aku memperoleh pengetahuan baru mengenai pendidikan politik, sebagai generasi muda khususnya “generasi milenial”.
  2. Aku merasa terinspirasi untuk dapat lebih berkontribusi (berpartisipasi) secara langsung untuk Indonesia yang lebih oke, dan merasa perlunya menerapkan nilai etika dalam berpolitik tentunya, dengan meningkatkan nilai-nilai moralitas.
  3. Di sini juga mengajarkan aku untuk bisa menginformasikan, kepada teman-teman harus berani bersuara, terutama bagi minoritas tentunya seperti komunitasku di Penghayat, baik mengenai hak-hak yang belum diperoleh selama ini dari pemerintah (karena adanya diskriminasi) seperti dalam pendidikan dan pelayanan lainya.
  4. Di sinilah aku berbagi pengalaman.
  5. Yang selanjutnya di acara ini yang bikin aku terharu adalah walaupun aku ini di Jawa Barat minoritas dan masih belum memiliki akses yang luas seperti teman-teman yang lain, tapi teman-teman dari berbagai lintas agama di acara tersebut merangkul aku seperti saudara sendiri, sampai ada salah satu peserta yang mengantar aku ke stasiun untuk pulang ke Bekasi, persaudaraan dan kekeluargaan kami dalam acara tersebut sangat berkesan. Walaupun kami berbeda keyakinan namun dalam acara tersebut seperti sudah tidak ada sekat, dan kami berkomitmen saling melindungi satu sama lain sebagai sesama warga Jawa Barat dan anak muda Jawa Barat. Aku harap ke depan acara ini bisa berlanjut dan bisa menjadi ajang buat kumpul-kumpul dan saling berbagi antara anak milenial lintas keyakinan di Jabar, jadinya Jabar makin damai karena milenialnya bersatu.

Perlu ditekankan bahwa literasi memang sangat penting, kita harus mempunyai pengetahuan yang kuat (dengan literasi, dengan rajin membaca, berkomunitas), sehingga kita dapat berupaya dalam meminimalisasi penyampaian media yang masih subjektif atau tidak sebenarnya sehingga menimbulkan hoaks dan secara perlahan kita sudah bermedia dengan ideal, dengan porsinya, tidak dilebih-lebihkan, karena kita “agent of change, agent of pioneer and agent of influence” , sehingga kita harus bermedia dengan objektif, agar jauh dari hoaks.

Peran media sosial

Dalam media sosial, waktu sangat berpengaruh (the power of second). Maka sebagai generasi muda, saat menggunakan media, harus mempunyai “sound bite” sesuatu yang kita buat harus bisa mengena terhadap pembaca atau yang melihat, baik melalui visual content seperti di Instagram, baik melalui blog. Kita sebagai generasi milenial, marilah membuat gerakan yang dapat membangun. Bermedialah dengan nilai etika, membangunnya bisa dalam bentuk konten seperti, infografis dengan kata-kata yang mempunyai power, sehingga dapat memberikan dampak terhadap si pembaca.

Sekiranya, itulah catatan singkat aku mengenai kegiatan tersebut, yang diikuti oleh teman-teman lainnya sebagai perwakilan dari organisasi lintas agama di Jawa Barat. Pokoknya berkesan banget. Sampai jumpa di kegiatan selanjutnya.

Share on facebook
Share on google
Share on pinterest
Share on twitter
Share on whatsapp